PATI – Yayasan pengembangan madarijul huda (YPM) Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, hari ini menghadirkan pesan penting bagi dunia pendidikan Islam
Keberhasilan pembentukan karakter tidak cukup ditunjukkan melalui kemeriahan kegiatan, tetapi harus terlihat dalam perilaku nyata para santri, setelah kegiatan berakhir.
Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, kegiatan ini menjadi pengingat, bahwa pesantren memiliki tanggung jawab besar
Dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki integritas, kedisiplinan, kemandirian, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, tantangan pendidikan santri semakin kompleks.
Penguasaan ilmu pengetahuan perlu berjalan seiring dengan pembentukan akhlak, kemampuan berpikir kritis, serta kecakapan menghadapi persoalan kehidupan.
Ketua Panitia Kemah 1001 Santri, Budi Utomo menyebut kegiatan tersebut bukan sekadar perayaan tahunan.
Perpaduan pendidikan kepesantrenan, kepramukaan, dan semangat kebangsaan diarahkan untuk menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian dan kepedulian sosial.
“Peringatan Hari Santri harus menjadi momentum untuk meneladani perjuangan ulama dan santri,” ungkap Budi Utomo kepada wartawan, Selasa (20/10/2026).
Pesan tersebut menegaskan bahwa kegiatan pendidikan harus memiliki dampak berkelanjutan.
Nilai-nilai yang disampaikan selama kemah semestinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, pesantren, maupun masyarakat.
Ketua Yayasan YPM Kembang, KH. Fuad Abdillah menekankan bahwa santri harus mampu berada di garis depan, dalam menghadapi perubahan zaman tanpa meninggalkan akhlak.
“Santri harus di garda depan di setiap zaman. Tidak hanya bekal ilmu, namun bekal akhlak menjadi bagian yang paling penting dalam bermasyarakat,” pesannya.
Rangkaian kegiatan Kemah 1001 Santri meliputi Tribute to Masyayikh, doa bersama, tahlil, api unggun, dan pentas seni.
Agenda penghormatan kepada para masyayikh menjadi pengingat pentingnya meneruskan perjuangan para ulama yang telah membangun fondasi pendidikan Islam.
Namun, tantangan sesungguhnya berada setelah kegiatan berakhir. Kedisiplinan harus menjadi kebiasaan, tanggung jawab harus tercermin dalam tindakan, dan akhlak harus tetap terjaga dalam pergaulan sehari-hari.
Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober, yang berkaitan dengan sejarah Resolusi Jihad 1945, mengandung pelajaran tentang keberanian, pengorbanan, dan tanggung jawab terhadap bangsa.
Semangat tersebut perlu diterjemahkan ke dalam prestasi pendidikan, penguatan karakter, pemberdayaan masyarakat, dan kontribusi nyata bagi persatuan Indonesia.
Melalui Kemah 1001 Santri, YPM Kembang berupaya memperkuat persaudaraan antar peserta didik, sekaligus mengintegrasikan pendidikan umum dan keagamaan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan santri bukan semata-mata banyaknya acara yang diselenggarakan atau meriahnya peringatan Hari Santri.
Ukuran yang lebih penting adalah lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar
Indonesia Emas membutuhkan santri yang tidak hanya bangga dengan sejarah pesantren, tetapi juga sanggup meneruskan perjuangan para ulama melalui tindakan nyata”, tutur KH. Fuad Abdillah.(red)

















