PATI – Peristiwa perkelahian antar remaja yang sempat menghebohkan masyarakat, hingga menelan korban jiwa di wilayah Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati
Hari ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. kejadian tragis tersebut, dinilai bukan sekadar insiden spontan
Melainkan cerminan nyata, lemahnya kontrol sosial terhadap aktivitas anak-anak muda. Kapolresta Pati, Kombes Pol. Jaka Wahyudi melalui Kapolsek Kayen AKP Parsa menjelaskan bahwa kasus tersebut merupakan bentuk kenakalan remaja
Kini berkembang menjadi tindakan brutal, akibat pergaulan bebas tanpa kontrol. “kemarin sempat ramai sampai meninggal dunia itu murni kenakalan remaja.
Ini harus menjadi pelajaran bersama, jangan sampai terulang,” tegas AKP Parsa saat dikonfirmasi wartawan, Sabtu (25/4/2026).
Namun, di balik penegasan aparat, muncul kritik sosial bahwa kenakalan remaja yang terus berulang menunjukkan adanya kegagalan bersama
Dalam menciptakan ruang aman dan sehat bagi generasi muda. tawuran, perang sarung, hingga aksi antar geng yang belakangan marak
Dianggap menjadi bukti bahwa remaja, sering dibiarkan tumbuh tanpa arah. sementara lingkungan baru bereaksi, ketika tragedi terjadi
AKP Parsa menyampaikan bahwa Polsek Kayen tidak akan tinggal diam dan pihaknya akan meningkatkan langkah antisipasi
“Kemudian, kedepan sosialisasi akan digencarkan langsung ke masyarakat, termasuk mengingatkan orang tua. agar lebih peduli terhadap aktivitas anak-anaknya.
“Kami akan turun melakukan sosialisasi, mengingatkan orang tua. agar kedepan mengawasi anak-anaknya.
Jangan sampai ada tawuran, begadang malam, apalagi sekarang rawan perang sarung dan antar geng,” tambahnya.
Menurutnya, kebiasaan remaja berkeliaran hingga larut malam sering menjadi pemicu konflik, apalagi jika dipengaruhi emosi
Seperti minuman keras, maupun provokasi media sosial. situasi ini semakin rawan, karena kelompok remaja
Kini mulai membentuk geng dengan pola komunikasi cepat, sehingga bentrokan bisa terjadi hanya karena persoalan sepele.
Kapolsek Kayen juga mengajak masyarakat agar tidak pasif. warga diminta segera melapor, jika melihat perkumpulan mencurigakan atau aktivitas remaja yang berpotensi memicu gangguan keamanan.
“Kami butuh kerjasama. keamanan tidak bisa hanya dibebankan kepada polisi, tapi harus menjadi tanggung jawab bersama,” tuturnya.
Peristiwa tragis tersebut menjadi pengingat bahwa pembinaan remaja, tidak boleh dilakukan setelah korban berjatuhan.
Pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui penguatan peran keluarga, sekolah, tokoh agama, dan lingkungan sosial
Supaya para remaja tidak mencari identitas melalui kekerasan yang sering dialami, ketika pro dan kontra antara genk anak muda.(red)

















