JAKARTA – Jalur energi dunia Selat Hormuz disebut menjadi salah satu titik paling strategis dalam konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Hal itu disampaikan analis geopolitik timur tengah, KH. Fathurahman Yahya dalam seminar nasional Universitas Sahid yang digelar pada Jumat (10/4/2026).
Dalam forum bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia? Membaca Konflik Iran, Israel dan AS”, KH. Fathurahman menjelaskan bahwa konflik timur tengah
Tidak dapat dilepaskan dari akar sejarah panjang, mulai dari warisan kolonialisme hingga perebutan pengaruh global pasca Perang Dingin.
Ia menyoroti perjanjian Sykes-Picot sebagai salah satu faktor yang membentuk dinamika konflik berkepanjangan di kawasan.
Selain itu, rivalitas Sunni dan Syiah juga disebut memperbesar ketegangan politik dan militer di timur tengah.
Menurutnya, Selat Hormuz menjadi titik penting. karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi dunia
Jika jalur itu terganggu, maka dampaknya akan langsung terasa pada stabilitas ekonomi global dan kenaikan harga minyak.
“Konflik yang terjadi saat ini merupakan bagian dari skenario geopolitik pasca Perang Dingin, di mana AS dan Israel berupaya mempertahankan hegemoni Barat dengan menahan kebangkitan Iran sebagai kekuatan regional,” ujarnya.
KH. Fathurahman menilai ketegangan tersebut bukan hanya persoalan militer, tetapi juga berkaitan dengan upaya penguasaan wilayah strategis dan pengaruh terhadap negara-negara kawasan.
Ia mengingatkan bahwa konflik yang terus meningkat dapat memicu efek domino, mulai dari ketidakstabilan ekonomi dunia, hingga meningkatnya ketegangan diplomatik antar negara”, KH. Fathurahman kepada wartawan, Sabtu (11/4/26).
Seminar tersebut juga menekankan pentingnya Indonesia memahami dinamika geopolitik global, karena dampaknya dapat memengaruhi kondisi dalam negeri, terutama sektor energi dan perdagangan.(red)















